SISTEM PERTAHANAN TUBUH

Seperti halnya sebuah negara, tubuh juga memiliki sistem pertahanan dan keamanan yang sangat diperlukan untuk menjaga tubuh dari segala macam gangguan. Apabila negara memiliki POLRI dan TNI sebagai sistem pertahahanan dan keamanannya, tubuh memiliki yang namanya “Sistem Imun” . Mungkin segala hal yang menyangkut sistem imun ini tidak dituangkan kedalam suatu landasan hukum seperti Undang Undang atau semacamnya tetapi hal mengenai sistem imun telah dituangkan di dalam beberapa buku kedokteran maupun jurnal kedokteran lainnya. Langsung saja kita mulai pembahasan mengenai sistem imun!

Apa itu sistem imun?

Sistem imun adalah suatu sistem terdiri atas gabungan dari sel, jaringan dan molekul-molekul yang digunakan tubuh untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya (antigen) yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup dan memediasi terjadinya imunitas.

Mengapa harus ada sistem imun didalam tubuh kita?

Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, sistem imun berperan penting dalam pertahanan tubuh dari berbagai gangguan seperti agen infeksi (penyakit) dan benda asing yang berasal dari bahan dalam lingkungan. Selain itu, sistem imun juga berfungsi untuk keseimbangan fungsi tubuh terutama kesimbangan komponen tubuh yang telah tua .

Apa saja jenis –jenis sistem imun?

Secara umum, mekanisme pertahanan tubuh dibagi menjadi 2 kelompok yaitu sistem imun nonspesifik (alami) dan spesifik (adaptif).

  1. Sistem imun spesifik

Sistem imun spesifik adalah sistem imun yang memiliki kemampuan untuk mengenali benda yang dianggap asing bagi dirinya secara spesifik. Apabila tubuh terpajan benda asing untuk pertama kalinya,  maka tubuh akan segera mengenali benda asing tersebut. Pajanan tersebut menimbulkan senisitasi, sehingga apabila antigen yang sama masuk ke dalam tubuh untuk kedua kalinya akan dikenali lebih cepat dan kemudian dihancurkan. Sistem imun spesifik terdiri atas sistem humoral dan sistem selular.

  1. Sistem imun nonspesifik

Sistem imun nonspesifik adalah sistem imun yang bekerja tidak ditujukan pada benda asing/mikroba tertentu, namun telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Sistem imun nonspesifik selalu ditemukan pada setiap individu sehat, mencegah mikroba masuk ke dalam tubuh dan dengan cepat menyingkirkannya serta memberikan respon langsung. Sistem imun nonspesifik terdiri atas tiga bagian yaitu fisik meliputi kulit, selaput lendir, silia, batuk, bersin; larut (biokimia dan humoral ) dan selular meliputi fagosit, sel NK, sel mast, basofil, eosinofil, sel dendritik.

Apa saja organ yang terlibat dalam sistem pertahanan tubuh?

Sejumlah organ limfoid dan jaringan limfoid yang morfologis dan fungsinoal berlainan berperan dalam respon imun. Organ limfoid tersebut dapat dibagi menjadi organ primer (sentral) dan organ limfoid sekunder (perifer).

  • Organ Limfoid Primer atau Sentral
  • Sumsum Tulang (Bone Marrow)

Sumsum tulang atau bone marrow ini terletak dalam cavum medullare tulang panjang dan substansinya spongiosa semua tulang. Sumsum tulang dibagi menjadi 2 yaitu Red bone marrow  dan Yellow bone marrow. Marrow).

Fungsi dari sumsum tulang adalah sebagai tempat hematopoesis dan dalam sistem imun sebagai tempat pembentukan dan pematangan sel limfosit B serta untuk imunitas.

  • Thymus

Timus merupakan organ limfoepitelial yang terletak di mediastinum. Jika dilihat secara mikroskopik, timus ini terdiri atas 2 bagian, yaitu : cortex dan medulla.

Fungsi timus adalah untuk membantu dalam pembentukan limfosit, tempat diferensiasi dalam pematangan sel T dan tempat eliminasi limfosit T yang bereaksi terhadap antigen-diri, suatu bagian penting dari induksi toleransi-diri yng bersifat sentral serta Mengandung sel induk diferensiasi sel mast, dll.

  1. Organ Limfoid Sekunder atau Perifer
  • Limpa atau Lien (Spleen)

Limpa merupakan organ limfoid terbesar di dalam tubuh. Karena di dalamnya banyak terdapat sel fagositik dan kontak sel-sel ini yang erat dengan darah, limpa menjadi pertahanan penting terhadap mikroorganisme yang berhasil memasuki peredaran darah.

Fungsi limpa yaitu menjadi pertahanan penting terhadap mikroorganisme yang berhasil memasuki peredaran darah atau dapat menyaring darah, membentuk limfosit yaitu tempat proliferasi sel T dan B sebelum kembali untuk menyerang dan menonatifkan antigen, menjadi tempat penghancuran eritrosit tua serta m enghasilkan sel darah merah dan putih diproduksi di limpa selama perkembangan janin

  • Limfonodus (Nodus Limfatikus) atau Kelenjar Getah Bening

Limfonodus merupakan organ berbentuk ginjal/lonjong dan bersimpai yang terdiri atas jaringan limfoid yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang pembuluh limfe. Kelenjar getah bening ini banyak ditemukan di ketiak, lipat paha, sepanjang pembuluh besar di leher, dan serta banyak dijumpai di thoraks dan abdomen, khususnya pada mesenterium.

Fungsi limfonodus yaitu sebagai tempat filtrasi limpa, proses fagositosis oleh makrofag serta memproduksi antibodi sebagai aktifitas limfosit B.

  • Tonsil

Tonsil merupakan organ yang terdiri atas agregat jaringan limfoid bersimpai tak utuh, yang terdapat di bawah, dan berkontak dengan epitel bagian awal saluran cerna. Fungsi tonsil secara umum yaitu untuk mekanisme pertahanan tubuh saluran napas bagian atas.

  • Peyer`s patch dan Appendix

Peyer`s patch dan Appendix merupakan bagian dari GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) . Peyer`s patch disebut juga folliculli lymphatici aggregati terdapat pada  di ileum. Sedangkan  Appendix Terletak di region inguinalis dextra. Memiliki fungsi sebagai organ pertahanan sistem imun sewaktu bayi.

Dalam mempertahankan tubuh, sistem imun juga memiliki benteng pertahanan loh! Apa saja benteng pertahanan itu?

Secara umum, mekanisme benteng pertahanan tubuh dibagi menjadi 3 yaitu:

  • Pertahanan Pertama (Sistem imun non spesifik fisik dan larut)

Dalam sistem pertahanan, kulit merupakan garis terdepan atau pertahanan peratama tubuh terhadap patogen. Kulit mengandung keratinosit dan lapisan epidermis kulit sehat serta epitel mukosa yang utuh eehingga tidak dapat ditembus kebanyakan mikroba. Namun, tidak semua bagian tubuh dilapisi oleh kulit, hal ini menyebabkan patogen dapat masuk melalui kelenjar sebaseus, lubang dalam tubuh, maupun folikel rambut sehingga diperlukan pertahanan lain berupa sistem imun biokimia dan humoral nonspesifik.

  • Pertahanan Kedua (Sistem imun non spesifik selular – berhubungan inflamasi akut)

Jika pertahanan pertama dapat ditembus, maka akan digunakan pertahanan kedua yang berupa sel fagosit, sel natural killer, sel mast, serta leukosit granulosit. Sel-sel tersebut banyak ditemukan pada sirkulasi pada saat terjadi peradangan atau inflamasi yang berfungsi untuk fagositosis antigen.

  • Pertahanan Ketiga (Sistem imun spesifik – berhubungan inflamasi kronik)

Jika pertahanan kedua tubuh tidak dapat mengatasi paparan antigen yang berlebih dalam jangka waktu tertentu, maka tubuh akan menggunakan mekanisme pertahanan tubuh terakhir yang berupa sistem imun spesifik dan sangat berhubungan dengan limfosit T dan B. Sistem imun spesifik ini erat kaitannya dengan APC (Antigen Presenting Cell) karena sistem imun berawal dari aktivitas makrofag sebagai APC.

Apa itu antigen dan antibodi?

Istilah antigen dan atibodi seringkali kita temui ketika belajar terkait sistem imun. Antigen adalah substansi/benda asing yang masuk kedalam tubuh dan memicu keluarnya antibodi.. Sedangkan Aatibodi adalah  protein yang dihasilkan oleh sistem imun untuk merespon masuknya substansi asing baik itu berupa virus atau bakteri. Antibodi atau biasa disebut  immunoglobin digolongkan menjadi beberapa macam yakni IgG, IgA ,IgM, IgD, dan IgE. B. Setiap macam immunoglobin tersebut memiliki fungsinya masing-masing

Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi sistem imun?

Berbagai faktor yang berpengaruh dalam sistem imun non spesifik diantaranya :

  • Spesies
  • Keturunan dan Usia
  • Hormon
  • Suhu
  • Nutrisi
  • Flora normal bakteri
  • Dan lain lain

REFERENSI

Baratawijaya, K. G., Rengganis, I. 2010. Imunologi Dasar Edisi-10. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

  • Dorland, W. A. N., 2012. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28. Jakarta: EGC.
  • Eroschenko, V. P.,2010. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional Edisi 11. Jakarta: EGC
  • Junqueira, L. C., Carneiro, J. 2007. Teks dan Atlas Histologi Dasar. Jakarta : EGC.
  • Kumar, et. al, 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC.
  • Paulsen dan Waschke, 2012. Sobotta Atlas Anatomi Manusia Edisi 23, Jilid 2. Jakarta: EGC.
  • Price dan Wilson, 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis dan Penyakit Edisi 6, Jilid 1. Jakarta: EGC.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *